Minggu, 02 Maret 2014

Terjemahan Lagu Usher-His Mistakes

Hey guys, balik lagi nih sama ane... setelah beberapa tahun vakum dari dunia tarik menarik( abuse, hiraukan gan/mba gan -_-) balik lagi nih sama ane dalam Label Lyric. Dimare ane mau share terjemahan lagunya Usher yang berjaduuuul (sorry khilaf, berjudul kamsudnye ) His Mistakes. Sedikit review tentang lagu ini ya gan, menurut gue ini lagu keren banget. Apalagi yang lagi galau karena dibanding-bandingin dengan mantannya orang yang kita sukai. Ini lagu nyeritain tentang cowok yang yang suka sama seorang cewek. Tapi si ceweknya ini punya luka masa lalu sama mantannya daaannn sialnya si cowok ini dianggap sama dengan mantannya si cewek. Kalo bisa dibilang sih gan, si ceweknya ini kaga bisa mup on dari rasa sakit hati yang di sebabkan oleh si mantan sehingga semua cowok dianggap die sama, alias brengsek semua. (Agan cowok? marah dikatain brengsek semua? ini bukan ane gan yang bikin lagunyeee T_T ampuunnn) Si cowoknya ini sukaaaaa banget sama si mba cewek, tapi apa mau dikata, namanya juga hiyumen alias manusia, dia ngga mau disama2in sama mantan si mba cewek yang brengsek onoh. Ngarti kaga sama review dari ane? kagak? yaudeh sonoh langsung aje pantengin terjemahannye :v



Usher-His Mistakes

Do I remind you of the pain
Apa aku mengingatkanmu akan suatu luka?
That he put you through, girl
yang dia berikan kepadamu
Is that the reason I'm to blame
Apa ini alasan aku disalahkan?
Before I do it…
sebelum aku melakukan apa-apa?
Is it because he, treated you badly
Apa ini karena dia, memperlakukanmu buruk
I always stand accused
aku selalu berdiri sebagai yang tertuduh

Protecting yourself, from somebody else
Aku yang melindungimu dari orang lain
I'm not who's hurting you girl
aku bukanlah orang yang menyakitimu, girl

And it's killing me girl knowing you compare me to him
dan ini membunuhku girl, mengetahui kamu membandingkanku dengannya
Always guilty before the sin
selalu berdosa sebelum melakukan kesalahan
I can't win, I can't win no
aku tidak bisa menang, tidak bisa...
I'll do anything to prove I love you
Aku akan melakukan segalanya untuk membuktikan kalau aku mencintaimu (eaaaaa)
Baby girl but I refuse to
Sayang, tapi aku tidak mau
Pay for something I didn't do
membayar sesuatu yang tidak aku lakukan
I love you, girl
aku mencintaimu, girl
But I refuse to stay
tapi aku menolak untuk bertahan
Paying for his mistakes
membayar semua kesalahannya

He left a scar across your heart
dia meninggalkan luka dihatimu
I understand, girl
aku mengerti, girl
Don't let his wrongs tear us apart
jangan biarkan kesalahannya, memisahkan kita
Cause girl I'm your man
carena akulah lelaki mu, girl

Just because he did
hanya karena dia yang melakukan
You swear I'm cheating
kau bersumpah bahwa aku menipumu juga
You think I just don't care
kau pikir aku tidak peduli
Why must I do time
kenapa harus aku yang menanggung
For another man's crime
kejahatan pria lain
Girl you know that aint fair
kau tahu kalau ini tidak adil

I'll do anything to prove I love you
Aku akan melakukan segalanya untuk membuktikan kalau aku mencintaimu (eaaaaa)
Baby girl but I refuse to
Sayang, tapi aku tidak mau
Pay for something I didn't do
membayar sesuatu yang tidak aku lakukan
I love you, girl
aku mencintaimu, girl
But I refuse to stay
tapi aku menolak untuk bertahan
Paying for his mistakes
membayar semua kesalahannya

I know he did you wrong
aku tahu dia berbuat salah kepadamu
But tell me what does that have to do with me
tapi katakan, apa yang harus aku lakukan?
Trying to show you something real
untuk memperlihatkan mu sesuatu yang nyata
Figure out what is going on
melihat apa yang terjadi
Before you look up and I'll be gone....
sebelum kau menyadarinya dan akupun sudah pergi

I'll do anything to prove I love you
aku akan melakukan apapun untuk membuktikan bahwa aku mencintaimu
Baby girl but I refuse
tapi aku menolak
To pay for something I didn't do, girl
membayar sesuatu yang tidak aku lakukan
I love you, and I love you I love you
aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu (eaaa lhoooo)

I'll do anything to prove I love you
aku akan melakukan apapun untuk membuktikan bahwa aku mencintaimu
Baby girl but I refuse
tapi aku menolak
To pay for something I didn't do, no
membayar sesuatu yang tidak aku lakukan, tidak
I love you, girl
aku mencintaimu, girl
But I refuse to stay
tapi aku tidak mau bertahan
Paying for his mistakes
untuk membayar kesalahannya

Salam: D-103
Terima kasih atas kunjungannya...

Sabtu, 15 Februari 2014

Arti Seorang Ibu: Mommy I LOVE YOU

Akhir-akhir ini gue seringkali berfikir mengenai pengorbanan emak ibu gue. Disitu gue menemukan banyaaakkk sekali pengorbanan baik itu yang kecil maupun yang besar sekalipun. Hal kecil-besar yang gue temuin dari sosok ibu gue adalah sebagai berikut:

1. Ibu gue selalu bangun pagi buta buat masak nasi agar saat gue akan berangkat sekolah, gue bisa sarapan. Oke, gue bisa anggap enteng ini karena hal ini pun sudah seharusnya dilakukan oleh seorang ibu. Tapi... coba deh bayangin atau kalau perlu lakukan! Bangun pagi buta (biasanya gue bangun pagi jam 3 buat belajar. doang. udah. titik) terus masak nasi atau masak lauknya sekalian. Males. Ya, itulah kata pertama yang ada di benak gue kalau gue diharuskan untuk masak nasi dan tetek bengek di jam segitu.

2. Selalu terbangun
Biasanya ibu gue tidur sehabis isya. Lalu bangun lagi saat bapak gue tiba dirumah yaitu jam 10 sampai jam 12 an. Setelah itu mereka tidur sekitar jam setengah 1. Seringkali ibu gue ngalamin insomnia dan akhirnya dia nggak tidur-tidur, dan hal yang dia lakuin saat nggak bisa tidur adalah jagain harta-hartanya dari nyamuk (meski nggak terlalu banyak nyamuk).
Harta-hartanya itu adalah bapak gue, adik gue dan gue sendiri. Lalu setelah itu dia tidur sejenak. Beberapa menit kemudian dia bangun lagi buat ngebangunin anaknya yang tidurnya nggak jauh beda sama kebo yaitu gue sendiri. setelah beberapa lama akhirnya ibu gue berhasil ngebangunin gue, dan dia tidur kembali. itu sekitar jam 2 an. kemudian jam 3 dia bangun lagi buat masak nasi. Lalu tidur lagi sampai subuh. Di saat-saat itu dia masih harus bangun lagi buat mastiin gue masih belajar atau kah molor di meja belajar gue. Setelah memastikan gue belajar, dia tidur kembali. Saat subuh dia kembali bangun buat ngebangunin seluruh keluarganya(kecuali ade gue yang emang nggak bakal bangun meskipun di bangunin dengan beribu cara). Kalo bisa dibilang tidur ibu gue nggak pernah bisa REM sehingga dia jarang sekali tidur nyenyak.

3. Tanggung Jawab
Setelah subuh, dia mastiin anak dan suaminya udah mandi lalu menyiapkan sarapan. Ibu gue emang tipikal orang yang nggak mau susah-susah masak sehingga lauk dan sayur pun harus beli. Meskipun begitu, dia mau susah payah nyari lauk buat sarapan anaknya di setiap pagi. 

4. No REM sleep and must KERJA
Di samping tidurnya yang nggak REM itu, di pagi hari hingga sore harinya dia harus masih memeras tenaga buat kerja. Terkadang gue sangat kasihan dengan ibu gue. Alhasil gue hanya bisa membantu dia sebisa yang gue kerjain. Di rumah gue ingin meringankan kerjaan dia dengan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah bergotong royong sama adek gue agar ibu nggak usah lagi capek-capek ngerjain pekerjaan rumah. 

5. SABAAARRRR
Orang tua emang harus bisa sabar, itu wajib. Tapi menurut gue, untuk bisa sabar itu bukan perkara yang mudah. Terkadang gue sendiri nggak terlalu sabar ngurusin adek gue yang sangat ngeselin (tapi gue sangat sayang, awkawkawk...). Terkadang gue harus ngomelin dia dulu baru dia mau mengerjakan hal positif(kadang negatif. bohong deh hahaha) yang gue suruh. Selain dia sabar ngurusin anak-anaknya, dia juga sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttttttttttttttttttttttt sabar ngurusin 'fans-fans' bapak gue yang terkadang nggak bisa menempatkan diri dalam bersikap kepada suami orang(maklum, bapak gue tukang ojek terkeren di pangkalan bojong kenyot. haha). Ibu gue nggak cemburuan, karena dia sangat percaya dengan bapak gue. Sehingga sangat jarang sekali terjadi keributan gara-gara masalah cewek(tante2 sampe ibu2) yang ngejar bapak gue. Dan untungnya, bapak gue pun bisa bersikap tegas dengan perilaku ganjen fansnya itu. 
Gue sendiri jadi nggak respect punya calon suami
yang ganteng karena semakin ganteng semakin banyak cobaan
yang akan dihadapi. hahaha, lagian siapa juga yang peduli
dengan fisik wajah.

6. Setia!
Menurut gue ibu gue adalah orang yang paling setia yang pernah gue temuin di dunia maya, dunia hantu maupun di dunia nyata. Dulu, seringkali ada telpon di tengah malam (maupun di siang bolong) yang berdering mendera dinginnya malam di handphonenya #tsaahhh... karena nggak disilent (maklum ibu gue agak gaptek), terdengarlah oleh bapak gue. Karena merasa nggak kenal dengan orang yang menelpon, maka didiamkanlah panggilan-panggila nggak jelas seperti itu oleh ibu gue. Berlawanan dengan ibu gue, bapak gue yang bersifat tempramen dan cemburuan pun langsung saja cemburu tanpa alasan yang jelas. Ibu gue pun hanya bisa cengar-cengir ngelihat gelagat bapak gue. Hahaha, menurut gue itu hal lucu yang di lakukan oleh bapak gue. Lalu dia menjelaskan dengan sabarnya. Akhirnya mereka pun berdamai dan hidup bahagia selamanya (dongen princess dan princce banget -_-)
Meskipun banyak godaan yang menerpa rumah-tangga mereka mulai dari bapak gue yang bangkrut krut krut krut sampai pertengkaran serius pun mampu di jalani oleh ibu gue dengan kesabaran dan kesetiaannya. #eaaa

8. Apa lagi ya?
Banyak deh hal-hal fantastik yang dilakuin sama ibu kita untuk harta-harta yang lebih berharga dari logam mulia emas miliknya.... Meskipun dia juga memiliki beratus-ratus keburukan dalam sifatnya, tapi dia adalah ibu yang memiliki berjuta kebaikan yang tertanam di darah dan denyut nadinya. Terkadang kita emang sering kesal sama ibu yang menasehati kita dengan cara-caranya yang kurang tepat, tapi sebenarnya niat yang sangat mulia lah yang terselip di dalam lisan dan perliaku yang kurang tepat tersebut. Emosi negatif orang tua itu hanya sesaat. Saat ibu marah ke kita, itu hanyalah beberapa menit saja. Tapi masa saat ibu mengasihi dan menyayangi kita itulah yang tidak bisa dihitung oleh menit, jam, hari, bulan bahkan tahun sekalipun. Betapapun kesalnya ibu kepada anaknya, tapi itu hanya sesaat. Jadi jangan membenci ibu saat dia dalam amarahnya. Okay gals ;)

Ibu itu menurut gue adalah seperti apa ya, susah deh di deskripsikan. She's amazzzzzng. She's wonderful. and I Love her so much. 

D-103

Sabtu, 01 Februari 2014

Jatuh Cinta dengan Sahabat sendiri. Is That Wrong???

Beberapa hari yang lalu ada sebuah inbox yang berasal dari sesosok makhluk tak berwujud alias makhluk dunia maya yang tidak lain adalah teman facebook saya namun saya tidak mengenalnya. Inbox tersebut berisi diskusi yang mengusung bahan pembicaraan: Salahkah jatuh cinta dengan sahabat sendiri???

Dari beberapa orang yang di tag pesan itu, hanya tiga orang yang menanggapinya--termasuk orang yang menge-tag inbox ke saya dan saya sendiri. Seseorang yang sebut saja namanya Bunga, memberikan pernyataan yang menegaskan bahwa jatuh cinta dengan sahabat sendiri itu tidak ada salahnya. Lantas, saya mengambil jalan yang akan membuat diskusi ini tambah seru, yaitu saya mengambil jalan kontra. Saya kemudian menyatakan pernyataan yang menegaskan bahwa jatuh cinta dengan sahabat sendiri itu relatif nilai benar salahnya. Hal tersebut bisa dilihat dari positif dan negatifnya. Berikut adalah rangkuman dari pernyataan-pernyataan saya:

1. Salah atau tidak? Ya tentu saja hal tersebut tergantung pada orangnya. Dia lebih mencintai mana? Persahabatan ataukah hubungan yang lebih jelas dan hangat yaitu Pacaran?
2. Jika dia lebih mencintai hubungan persahabatannya, maka simpan saja rasa suka itu. Karena apa? Karena menurut saya, jika pacaran dan kemudian ada kejadian buruk yang menimpa kedua sahabat yang tidak lain adalah pacar itu, maka persahabatan juga akan terancam hancur. Biasanya perasaan saat pacaran itu lebih sensitif, lebih manja dan lebih merasa 'dia milik gue'.
3. Pada orang-orang tertentu, persahabatan akan hancur bersamaan dengan putusnya hubungan pacaran. Dan bagi saya hal itu lebih buruk dari apapun juga, apalagi jika sahabat itu sudah menjadi benar-benar sahabat kepercayaan.
4. Jikalaupun setelah putus hubungan tidaklah seburuk itu alias masih tetap tegur sapa, tapi pasti ada rasa semacam kegengsian untuk memulai hal-hal yang dulunya dilakukan bersama. Seperti contoh, saya punya teman, dia pacaran dengan sahabatnya(atau teman baiknya? entahlah yang pasti hubungan mereka sebelumnya lebih hangat dari pada teman biasa) namun setelah putus, memang sih mereka masih saling senyum kalau bertemu, saling sapa dan sebagainya. Tapi, mereka pasti ada rasa seperti contoh dibawah ini. Ini adalah kisah nyata:

Alkisah ada sepasang sahabat yang sebut namanya Kemuning dan Kencur. Kemudian mereka menjalin hubungan pacaran. Hari-hari berlalu dengan sangat indah. Tapi kemudian suatu hari mereka putus. Hubungan mereka masih baik-baik saja hingga saat itu. Mereka masih saling tegur sapa saat bertemu, masih saling senyum dll. Tapi suatu hari saya berada bersama Kemuning dan saya mengajak Kemuning ke Perpustakaan.
"Kemuning, anterin gue ke perpus yuk?" ajak saya.
Ternyata Kemuning tahu kalau Kencur ada di perpustakaan, dan kemuning berkata seperti ini: 
"Nggak ah, ada dia (Kencur). Ntar gue dikira pengen ketemu dia lagi." begitulah kata Kemuning. Semoga kalian bisa menangkap hal yang saya maksudkan.

TAPI JIKA::::::::
1. Kalian yakin bahwa hubungan kalian akan bertambah baik jika pacaran, maka lakukanlah. Toh apa-apa saja yang telah saya pointkan di atas juga tidak berlaku pada semua orang karena kepribadian setiap orang juga berbeda bukan? So, Lakukan saja.

2. Tidak semua hubungan pacaran akan kandas dengan kehancuran bukan? Siapa tahu bisa berakhir di pelaminan. Siapa yang tidak merasa beruntung memilki pendamping hidup seorang yang kita sudah tahu pribadinya? Seseorang yang telah mengetahui seluk beluk kita, dan bahkan dia adalah orang yang lebih mengerti kita di saat-saat tertentu dibandingkan orang lain.

Namun.... Pada kenyataannya banyak sekali orang yang SALAH MEMPERSEPSIKAN antara rasa sayang, rasa suka, rasa kagum dan rasa cinta. Jadi, cari tahulah terlebih dahulu rasa apa yang kalian rasakan terhadap orang lain tersebut, terlebih lagi terhadap sahabat anda sendiri.

Apa yang saya sampaikan tadi hanyalah pendapat dari pribadi saya, so, jika hal tersebut membantu, silahkan diserap dan diambil. Namun jika dirasa tidak sesuai dengan pendapat anda, silahkan ditanggapi... Terima Kasih...

Jumat, 03 Januari 2014

Fiksi: Cintaku Mentok Di Jembatan Layang


Aku masih termangu menanti balasan pesan dari Indit—sahabat karibku. Sudah lima belas menit berlalu sejak pesan terahir ku kirimkan kepadanya. Tega sekali sahabat-sabatku itu meninggalkan aku sendiri di malam yang seharusnya penuh keriangan ini. Ah! Benar juga. Ini semua memang salahku. Andai saja aku lebih memilih ikut mereka ke Bali dari pada mengikuti rencana liburan keluargaku yang gagal dengan sukses karena ayah tiba-tiba harus mengurus pekerjaannya. Ya, ini semua salahku. Aaa! Jika saja aku memilih ke Bali bersama Indit dan yang lainnya, sekarang ini pasti aku sedang berada di bawah pancaran bintang yang terbuka lepas di angkasa. Menikmati terpaan angin yang membawa serta ombak berdendang memecah kesunyian. Menikmati malam pergantian tahun bersama empat sahabatku yang lain. Tia, Rahma, Echa dan Indit. Mereka pasti sedang bersenang-senang mala mini. Ditemani musik, orang-orang, cahaya khas pesta di pinggir pantai dan juga keringat yang memburu penuh semangat.

Andai saja ayah tidak ada pekerjaan dadakan, pasti malam ini aku sedang membakar ayam di atas panggangan barbeque ditemani bunda, kak Raihan dan tentunya ayah. Kak Raihan sedang memainkan gitarnya, ibu bernyanyi dan ayah pasti sedang membantuku menyiapkan makanan. Ah! Kami pasti sedang menikmati semilir angin malam di Kota Malang.
Dan sekarang, kenyataannya adalah aku seorang diri berada di ruangan ini. Bahkan angin pun tak sudi menghampiriku kendati jendela kamarku telah ku buka lebar-lebar. Baiklah Raisya, mari bunuh rasa bosan ini!
Aku beranjak ke meja belajarku. Ku buka benda persegi panjang berwarna merah yang tergeletak tak bernyawa di depanku. Ku tekan tombol power dan beberapa detik kemudian kudapati layarku telah menampakkan tampilan desktopnya. Sebuah benda yang belakangan diketahui bernama modem pun segera ku sambar dan kemudian ku colokkan di port USB. Ku tekan touchpad begitu pointer telah berada tepat di atas tombol connect. Aku buka browserku. Di tab pertama aku ketikkan situs jejaring social andalanku, facebook. Dengan lincahnya tanganku segera mengetikkan username dan password milikku. Di tab kedua aku membuka twitter. Dan di tab ketiga… ah! Semuanya tetap saja terasa hambar.
Dengan gerakan gontai aku langsung menutup layar laptopku dan berjalan menghampiri lemari yang sedang berdiri manis.
“Hai lemari. Kamu nggak tahun baruan?” sapaku pada lemari. Ah! Benar juga, dia kan makhluk tak bernyawa.
Oh Tuhan! Apakah aku mulai gila karena berbicara kepada seonggok lemari? Aku membuka salah satu pintu lemari dan segera mengambil tas mungil ku. Dompet, handphone, novel, tisu semua kumasukkan kedalamnya. Kamera dslr kebesaranku pun tak lupa culik dari tasnya. Aku melangkah keluar kamar, menyusuri tangga dan berakhir di ruang tamu. Aku mengambil kunci motor yang ada di laci lemari.
Suasana di rumah ini begitu sepi. Menyedihkan. Sangat. Ibuku sedang keluar bersama—siapa lagi kalau bukan bersama tante-tante arisan genit itu. Kak Raihan, dia sedang berada di rumahnya untuk pesta bakar-bakar ayam dan jagung. Aku berharap dia tidak membakar rumah temannya itu sebagai media pelampiasan kekecewaannya karena gagal berlibur ke Malang. Terakhir aku melihatnya—tadi sore, dia masih menampakkan muka lusuhnya seperti cucian tidak kering berhari-hari. Bahkan dia hampir saja melahapku dengan sekali terkaman saat aku menggodanya.
Aku memanasi motor ku yang masih tersandar di teras. Tak lupa ku kunci pintu rumah kemudian menghampiri pintu pagar. Deg! Pintu pagar tidak dikunci? Dasar bunda, teledor sekali dia! Pintu pagar telah terbuka, aku segera menghampiri kembali motor matic andalanku. Aku menuntunnya keluar dengan penuh kasih sayang layaknya seorang bunda yang menggandeng anaknya keluar dari Taman Kanak-Kanak. Motorku kini telah berada di luar pagar. Ku katupkan kembali pintu pagarku dan kugembok. Haha! Sekarang kau tidak bisa kabur kemana-mana, wahai rumah!
Aku memacu motorku keluar komplek perumahan. Rumah-rumah yang biasanya ramai suara anak kecil, malam ini sepi. Memang seperti sudah menjadi budaya di komplek perumahanku jika malam tahun baru pasti dilewatkan oleh keluarga-keluarga disini untuk berlibur keluar rumah seperti ke mall, ke pusat kota atau pusat keramaian lainnya.
Aku sudah berada di jalan raya dekat pintu masuk perumahanku. Tapi aku masih bingung harus berbuat apa dan kemana. Aku putus asa. Aku menundukkan pandanganku. Oh my god! Dileherku telah terkalung sebuah kamera dslr. Kenapa aku harus bingung? Ya! Malam ini aku akan berburu foto. Pasti banyak momen keren yang bisa ku ambil. Aku berhenti di pinggir jalan. Aku mulai membidik lampu-lampu jalanan yang berjajar rapih di separator jalan. Meskipun aku tidak bisa berjajar pas dengan deretan lampu-lampu itu, tapi di posisi ini tidak kalah bagus kok angle nya. Aku mengamati rumput yang terinjak oleh ku. Pasti bagus jika rumput ini dijadikan objek utama dengan latar belakang jalanan beserta dengan lampu-lampu yang berjajar.
Aku menelungkupkan tubuhku dan mulai memposisikan kameraku sedemikian rupa hingga rumput pun terbidik dengan latar belakar lampu-lampu jalanan yang bokeh. Oya, bokeh sendiri adalah istilah untuk foto yang mempunyai latar belakang blur.
Baiklah cukup. Akan lebih banyak lagi foto dengan angle dan momen yang keren lainnya hingga tengah malam nanti. Aku melihat jam yang melilit erat tanganku. Baru jam setengah Sembilan. Oke, ayo pergi ke keramaian! Yoo! Semangat!!!
Ku pacu motorku hingga angin pun serasa menjambaki rambutku. Helm yang tertancap di kepalaku pun serasa ingin copot. Semakin kencang, semakin kencang dan akhirnya jalan yang agak sepi ini membuatku merasa berada di arena balap Sentul, Bogor. Aku telah melewati batas Kota Bekasi dan kini aku berhasil mendaratkan ban motorku di kota Jakarta. aku berbelok mengikuti alur jalan. Aku melewati R.S. Pondok Kopi dan berhasil berhenti di samping jalan layang Pondok Kopi. Disini arus kendaraan terlihat sedikit ramai dibandingkan jalanan yang kulewati tadi.
Mataku menggeliat lincah mencari angle dan obyek yang bagus untuk jepretan kamera ku. Cahaya samar yang menyinari penumpang yang turun dari metro mini 506 pun menarik perhatianku. Aku mulai mengarahkan kameraku ke orang-orang yang naik dan turun itu. Angle yang keren sekali ini, seorang ibu yang sedang menggendong anaknya turun dari metro mini. Disirami cahaya samar dan lembut dari lampu jalanan yang berada sekitar 100 meter di belakangnya. Lalu di tengah jalan, tersaji seorang pedagang asongan yang sedang menyeberang jalan sambil mengelap peluh dengan handuk kecil yang tersampir di lehernya. Cahaya ini begitu indah untuk foto bergenre social seperti ini. paling tidak itu menurutku.
Lelah menegakkan lenganku untuk menopang kamera, akupun duduk dan memesan kopi di kedai berjalan alias gerobak minuman yang terparkir di trotoar, tepat di sampingku. Ku periksa satu persatu gambar hasil jepretanku tadi, hingga aku menemukan foto yang sangat ku rindukan. Disana ayah berpose dengan wajah cerianya, ibu memamerkan senyum terindahnya, kak Raihan yang sedang memperlihatkan kawat gigi baru nya dan aku… Aku berada di tengah-tengah mereka. Aku jadi rindu masa-masa yang seperti ini. Sekarang ayah selalu sibuk dengan bisnisnya hingga tak jarang sering pulang larut. Sedangkan bunda, dia bukanlah tipikal ibu yang betah berdiam diri di rumah dan menghabiskan waktu untuk bercanda bersama anak-anaknya. Meskipun tidak bekerja tapi hampir setiap hari dia pergi ke rumah teman-teman arisannya. Meski begitu bunda ku itu bukanlah bunda yang jahat dan apatis dengan keluarganya. Dia tetap memeriksa keadaaan anak-anaknya dengan selalu menelponku maupun kak Raihan lebih dari sekali sehari. Dan hari ini saja, selama dia pergi sejak siang tadi dia telah menelponku dua kali. 
Huh! Hanya kak Raihan yang tidak berubah. Dia tetap menjadi Raihan yang dulu. Sering menemaniku dan sangat sayang juga baik hati padaku. Tapi itu semua berlaku saat hormon kejahilannya sedang tidak berproduksi. Kalau sedang berproduksi dan sedang puncak-puncaknya, dia bahkan lebih jahil dari host acara di tv yang sangat senang menjahili targetnya. Sudah ah, aku khawatir nanti kak Raihan tersedak tulang ayam bakar jika aku terus-terusan membicarakannya. Hihihi…
Aku menyeruput kopi yang kupesan. Ibu-ibu paruh baya yang menjual kopi ini begitu ramah. Dia tak segan melemparkan senyum terindahnya padaku yang jelas-jelas belum dia kenal. Aku khawatir dia juga akan melemparkan gerobaknya kepadaku sebagai wujud keramahannya. Seorang lelaki paruh baya bertampang sangar mendekat ke gerobaknya dan meminta satu kopi hitam hangat. Nada bicaranya kasar dan kental dengan logat batak. Nyaliku pun sempat dibuatnya ciut hanya dengan suara lantangnya. Aku mengalihkan pandangan ke motorku.
“Bah, sendiri saja kau neng.” kata bapak paruh baya itu memecah lamunanku. Aku menghadapkan muka ke arahnya dan ternyata benar dia berbicara denganku.
“Iya nih pak.” Jawabku singkat disertai dengan senyuman ala duta lingkungan.
“Daripada kau bosan lontag-lantung ngga jelas, kau putar-putar saja ke Kampung Melayu dengan Metro Mini.” Kata bapak itu seraya menunjuk bus orange lusuh yang baru saja lewat.
“Tuh saya bawa motor kok pak.” Jawabku. Bapak itu menyusulku duduk di trotoar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi sambil menyesap kopinya. Dari samping sini, angle yang ku dapat begitu indah.
“Pak, saya foto ya?” kataku kepada si bapak yang sedang asik menyesap kopinya sambil membidikkan kamera ku.
“Alamajang… Mau kau jadikan artis bapak ini?” kata bapak itu dengan senyum yang mengembang dan disusul tawa yang memecah.
“Bukan pak… ya, difoto aja. Angle nya bagus nih, coba lihat…” kataku sambil memperlihatkan layar kamera yang berisi hasil jepretanku di tempat ini.
“Wah, boleh boleh… Harus gaya apa bapak ini? begini? Ha? Ha? Atau begini?” serunya sambil memperlihatkan lengan tangannya yang sama sekali tidak nampak otot kekar.
“Boleh, tapi nanti coba biasa aja. Bapak ngobrol, minum kopi. Nanti saya jepret-jepret gitu pak. Baru deh nanti keluar di majalah Trubus.”
            Bapak itu tertawa lepas. Di susul dengan tawa ibu penjual kopi yang sedari tadi sibuk mengawasi kami berbincang.
“Macam kau kira aku tak tau majalah Trubus? Majalah tanaman kan? Kau ini kurang ajar. Hahaha” katanya sambil memukul lembut lenganku. Kami tertawa lepas, selepas hamparan pantai.
            Hunting foto di lokasi ini pun aku sudahi. Aku telah mengambil begitu banyak foto. Ku habiskan kopi susu yang masih tersisa setengah gelas. Aku menyeruputnya dengan perlahan karena lidahku sangat sensitif dengan suhu hangat.
“Pak, saya cabut dulu ya.” Kataku begitu kopi telah pada tetes terakhir.
“Bah, mau kemana pula kau ini? masih sore pula.”
“Mau muter-muter lagi pak.” Kataku sambil berdiri menghampiri motor.
“Iyalah sana. Masih muda jangan kau galau-galau macam di tipi-tipi itu.” Tawa bapak itu kembali menggema. Aku menyusulnya dengan sunggingan lebar yang terlukis di bibirku.
            Aku menyalakan motor dan langsung memacunya. Baiklah, kali ini aku tidak akan bisa ngebut lagi lantaran jalanan kini tak ubahnya lautan sorot lampu kendaraan. Tak mau kalah dengan keadaan lain, akupun menyelip dari satu mobil ke mobil yang lain. Kini aku hanya berpacu dengan motor-motor yang sepertinya satu tujuan denganku. Aku terus menyusuri jalan I Gusti Ngurah Rai menuju jempatan layang buaran hingga akhirnya aku sampai pada simpangan mall Buaran. Aku berbelok ke kiri. Dengan perlahan ku posisikan motorku hingga aku bisa langsung berbelok di belokan pertama menuju puncak jembatan. Aku teringat pada tweet salah seorang motivator yang berbunyi: “Jika ingin berada di puncak kau harus berani bersaing dengan orang yang punya mimpi yang sama yaitu ke Puncak itu.” Tak ubahnya dengan pepatah itu, sekarang akupun sedang bersaing dengan kendaraan—motor lain yang ingin berbelok menuju jembatan layang.
            Aku mengekor di belakang mobil Innova hitam. Dan akhirnya aku berbelok namun yaahh harus bersabar untuk mencapai puncak. Aku kembali mengasah kemampuan menyelipku hingga aku berada benar-benar di jalan layang namun belum di puncaknya. Aku pikir tidak perlu sampai benar-benar di puncaknya. Pasti trotoar disana juga sudah dipenuhi pengunjung lain yang sudah menempatinya lebih awal dariku. Nasib baik aku kali ini. aku melihat trotoar yang belum terlalu sesak oleh motor maupun orang, beberapa meter di depanku. Aku menyegerakan laju motorku.
            Sekarang motorku telah terparkir di sisi trotoar. Lagi-lagi aku berada dekat dengan pedagang minuman. Baiklah, malam ini mari kita berpesta kopi susu hingga mabuk. Hahaha, celotehku dalam hati. Aku melepas helmku dan menyingkir dari motor. Ku edarkan pandanganku ke sekitar. Cahaya dari lampu jalanan bersinar  begitu lembut, ditambah lagi  dengan sorot-sorot lampu dari kendaraan yang melintasi kemacetan di atas jembatan ini. aku mulai mengangkat kamera ku dan membidikannya ke sekitar untuk mencari angle foto yang bagus. Di seberang sisi jembatan ada seorang anak umur dua tahunan yang di gendong di leher ayahnya. Aku memperbesar gambar di kameraku hingga ku dapatkan detail keren dari ekspresi anak itu. Ayahnya menunjuk ke langit barat—ke kembang api yang menyala indah. Aku segera menekan tombol shoot.
            Hatiku berdesir sesekali. Tahun-tahun lalu aku juga menghabiskan malam tahun baruku di jembatan ini karena orang-orang di rumah begitu sibuk dengan acara tahun barunya sendiri-sendiri. Haahh, mengenaskan! Begitulah hidupku. Menghabiskan malam tahun baru tiga tahun berturut-turut sendirian di jembatan ini. jangan-jangan ini memang seperti kutukan bagiku.
            Aku mengedarkan kamera ku mengikuti jalur trotoar jembatan di depanku. Disana ada berbagai ekspresi yang bagus untuk  di abadikan. Ada seorang  gadis—sepertinya sepantaran dengan ku, yang sedang bergurau dengan pacarnya yang ada di sebelahnya, duduk di atas motor. Aku membalik badanku ke belakang. Di sana ada bapak-bapak yang sedang sibuk menyiapkan segelas susu jahe untuk pelanggan yang berdiri menghadapnya. Agak jauh di sebelah utara, ada seseorang sedang berjalan. Posturnya tinggi dengan kulit putih yang membalut wajahnya. Dia memakai jaket berbahan denimn berwarna hitam dan celana denimn kebiru-biruan. Semakin lama dia terlihat semakin besar padahal aku tidak memutar settingan zoom kamera ku.
            Hidungnya begitu mancung—tak seperti milikku, bibirnya mengguratkan senyuman tipis yang semakin melebar. Objek itu semakin mendekat dan tak kusadari ternyata pupil matanya tepat mengarah ke mataku yang sedang mengintip di balik lensa kamera. Senyumnya semakin lebar sejurus dengan tubuhnya yang berpose dengan mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk formasi peace yang khas di setiap pose fotonya. Rama. Apa? Rama???
            Aku menyingkirkan kamera yang sedari tadi menempel di mata sebelah kananku. Serasa tidak percaya, lantas aku mengusap-usap mataku.
“Hey Sya.” Katanya sambil melampaikan tangan kanannya dengan cepat. Astaga! Itu benar-benar Rama.
Aku begitu gugup kali ini. betapa tidak? Dia adalah Rama, teman dekatku yang sekarang tinggal jauh dariku. Dialah alasanku begitu bersemangat pergi ke Malang. Aku ingin berbincang banyak dengannya saat aku di Malang. Ini seperti dongeng saja. Aku gagal ke Malang untuk menemuinya tapi tiba-tiba tanpa di duga-duga dia muncul di depan mata kepala ku.
“Hellow Raisha…” katanya sambil menjentikkan jari tangannya di depan wajah ku.
“Eh Ram, kamu ke Bekasi?” kataku gugup. Entah kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini.
“Iya, ayah lagi nggak enak badan jadi aku yang ke Bekasi deh.”
“Kamu nggak berubah ya, masih suka aja kemana-mana bawa kamera.” Sambungnya dengan disusul senyum yang menentramkan. Aku membalasnya dengan senyuman.
“Kamu itu ya, pergi tengah malem pake motor bukannya bawa jaket atau baju tebal kek. Ini malah cuman make baju piyama panjang. Raisya, ini tuh tahun baru. Masa kamu kamu pake baju piyama ke sini. Kamu tuh ya, dari dulu nggak pernah berubah. Tetep jadi Raisya yang nyentrik.” Cibirnya panjang lebar sambil mencubit lenganku.
“Aw, sakit tau.” Cubitannya memang tidak berubah, tetap sakit seperti dulu. Kulihat dia melepas jaketnya dan menyampirkannya ke kedua bahu ku.
“Nih pake biar nggak masuk angin.”
“Nggak usah Ram, udah biasa.” Kataku sambil melepas jaketnya. Memang benar aku sudah terbiasa dengan kedinginan kok Ram. Entah itu kedinginan udara maupun kedinginan hati. Huahaha. Putis sedikit tidak apa dong.
“Pokoknya harus kamu pake. Oh iya, kamu kan hobi foto. Tuh di bawah sana ada panggung band kecil-kecilan. Kesana yuk?” ajaknya sambil menunjuk ke arah bawah jembatan. Dia kembali memakaikan jaketnya ke bahu ku. Itulah Rama, kalau ada kemauan harus dituruti. Walaupun menolak pasti akan percuma saja hasilnya.
“Boleh. Tapi motorku gimana Ram?” kataku sambil menyorotkan pandangan ke kuda besiku yang terparkir di belakangku.
“Taruh aja disini. Sebentar doang kok. Asalkan kamu gembok dulu.”
“Oke deh, bentar ya aku gembok dulu.”
            Aku langsung saja membuka bagasiku dan mengambil gembok. Begitu gembok telah terpasang di rem depanku, aku langsung berjalan menuju panggung yang dimaksud Rama tadi. Rama membetulkan posisi jaket denimn hitamnya yang kini membalut bahu ku.
            Kami berjalan menyusuri penjual minuman, kacang dan juga motor-motor yang berjajar di bahu jalan. Rama hanya diam saja. Tumben sekali, biasanya dia yang lebih cerewet dariku setiap kita bertemu. Ah, keadaan ini semakin membuatku kikuk. Seperti ada yang aneh dengan Rama. Rama, ayo ngomong dong... jangan buat aku salah tingkah gini. Kataku dalam hati. 
            Oh God! Kali ini aku benar-benar kikuk, bahkan aku lupa bagaimana cara jalan ku. Apa seperti ini? ah tidak, itu terlalu girly dan kemayu. Begini? Ah itu malah seperti jalannya lelaki. Aduuh, gimana ini. Seperti ini? Oh tidak, itu malah seperti jalannya waria. Yasudah Raisya, jalan saja sesukamu. Baik. Tapi, bagaimana dengan posisi tanganku saat aku berjalan seperti biasanya? Seperti ini? ah tidak, itu terlalu berlebihan. Apa seperti ini? tidak juga! Itu malah terlalu kaku seperti robot. Ah, masa bodoh dengan itu semua. Semoga dia tidak menyadari semua tingkah ku yang serba salah ini.
“Raisya…” ahh, akhirnya dia mulai berbicara juga. Tapi, apa ini? Kenapa pupil matanya tepat menembak inti mataku?
            Kami berhenti sejenak. Tapi di belakang kami terdengar banyak klakson motor yang mengisyaratkan agar kami tidak berhenti di tempat itu. Rama segera menarikku ke trotoar yang—yaah lumayan ramai orang juga.
“Raisya aku suka sama kamu.” Katanya dengan sangat cepat nyaris aku tidak bisa mencerna. Tangan kirinya menggenggam tangan kananku erat. Aku segera berpaling ke kanan—melihatnya. Pandangannya menunduk. Meski begitu karena tubuhnya lebih tinggi dariku, aku dapat melihat dia benar-benar menutup rapat kedua matanya. Aku masih tidak dapat percaya dengan apa yang aku dengar tadi. Aku mengedip-kedipkan mataku, untuk memastikan bahwa ini bukan ilusi semata.
“Raisya, kamu mau nggak jadi pacarku? Menjadi seseorang yang akan setia menungguku pulang ke Bekasi?” kali ini suaranya lirih dengan mata yang menatapku tajam.
            Aku bingung meskipun sedikit senang. Kata-katanya yang baru saja itu mengingatkanku kalau aku adalah jomblo. Dan aku lupa kapan terakhir kali aku pacaran.
“Sya, jawab… Kamu mau nggak?” tatapannya semakin tajam.
“Iya Ram.” Kataku dengan sangat cepat. Sumpah demi apapun aku sangat malu. Aku langsung memalingkan muka kea rah kiri.
“Lho Sya, nggak usah malu gitu kali.”
Ha? Apa? Kok Rama bisa tahu, jangan-jangan dia keturunan paranormal lagi. Hii…
“Kok kamu tahu Ram?”
“Tuh, muka kamu merah banget.” Dia lalu tertawa.
“Emang keliatan ya? Ihh nyebelin kamu Ram.” Kataku sambil memukul lengannya.
“Kok Ram sih? Kan kita udah pacaran, panggil sayang dong…” rajuknya.
“Ih apaan sih.” Aku mengernyit yang kemudian ku bubuhi dengan sunggingan senyum kecil.
“Iya sayang…” aaaaa??? Apa? Apa yang baru saja aku katakan? Aaaa tidaaakk!!! Badanku serasa terbakar saat aku mengatakannya. Tapi aku harus tenang. Oke… tenang…
“Nggak usah maksain gitu kalo belum siap.” dia mengusap bahu kiriku. Rasanya begitu hangat…
“Hahaha, aku cuma nggak terbiasa aja.”
“Nanti juga biasa.” Dia tersenyum teduh. “But, I just want to love you in 3 times.” Sambungnya. Hal yang satu ini membuatnya terkejut. 3 times? What does it mean? Pacaran kontrak gitu??? Ahh! Maksud sebenernya apaa??? Bahasa Inggrisku begitu jeblok! Aishh! Baru kali ini dalam hidupku menyesal gara-gara aku sering bolos di pelajaran tambahan Bahasa Inggris.
“Maksudnya?” dahiku berkerut.
“I want to love you in 3 times. Today, tomorrow and forever.” Dia memandangku lekat. Senyumnya mengembang lebar.
“Dasar…!” aku mendorongnya lembut. “Ayo ke panggung yang kamu bilang itu.” Sambungku.
“Iya ayo sayang.” Lagi-lagi senyumnya meneduhkan hati ku. Kata "sayang" yang dia ucapkan juga tak kalah meneduhkan. Aaaa! Senang sekali mendengarnya memanggilku "sayang".
             Kami berjalan menyusuri bahu jalan menuju ke panggung kecil yang ada beberapa meter di depan kami. Musik mengalun begitu kencang. Bahuku terasa begitu hangat dengan balutan jaketnya. Begitupun dengan hatiku. Terima kasih Tuhan, malam ini aku tidak akan sendiri lagi seperti malam-malam tahun baru sebelumnya. Meskipun acara berkumpul dengan keluarga ku di malam tahun baru selalu gagal, tapi aku sangat bahagia dengan kado terindah ini. Aku yang selalu mengakhiri malam pergantian tahun dengan kesedihan dan rasa kesepian. begitu juga dengan akhir tahunnya. Mulai tahun ini nasibku pun akan berubah.
God, aku tidak perlu datang jauh-jauh ke Malang untuk menjemput momen ini, secara ajaib tiba-tiba dia datang ke jembatan layang ini untuk menyatakan cintanya. Apa ini yang dinamakan keajaiban cinta? Oh thanks God, I’ll keep this lil’ miracle.


Karya: Irma Oma Eka

Peringatan: segala bentuk kesamaan nama, tokoh dan alur cerita dalam cerpen ini hanya kebetulan belaka. Jika ingin mengcopy-paste postingan ini, mohon cantumkan nama pengarang dan link blog ini. Terima kasih atas kunjungannya... :)


source gambar: tempatku-wisata.blogspot.com

Salama: Detective-103

Selasa, 24 Desember 2013

Orang UNIK??? What's up vroooh!!!

Hey guys... sekedar tulisan iseng tapi penuh niat ya... Ada beberapa orang yang terlahir aneh UNIK. | Tunggu... Kita ini sedang membahas apa sebenarnya??? | Benar juga. Kali ini saya sekedar ingin sharing pemikiran mengenai orang UNIK.

Well, nggak semua orang terlahir secara sempurna kan? Setiap manusia itu mempunyai KEUNIKAN masing-masing. Tapi, ada yang keunikannya dalam ambang normal dan ada juga yang UNIKnya ini udah tingkat akut hingga orang-orang pun agak nggak nyaman dengan keberadaan orang macam ini. 

Bukan bermaksud mendeskriditkan kelompok manusia, tapi jika dicerna secara positif artikel ini sebenernya mempunyai makna, maksud dan niat yang baik lhoo *Penulisnya mulai keluar sayap berwarna putih di punggungnya (jadi malaikat)* Jadi gini, ada beberapa orang yang saking UNIKnya itu jadi tidak bisa membedakan mana yang normal dan mana yang terlampau UNIK.

Bagi saya, menjadi UNIK itu adalah sebuah keharusan. Karena betapapun tidak, setiap manusia itu terlahir UNIK, buktinya lihat saja sidik jari temen-temen. Saya tidak mempermasalahkan sebuah KEUNIKAN, bahkan saya suka sekali melihat orang yang UNIK sampai-sampai saya sendiri dikatai aneh oleh teman-teman saya karena menyukai orang-orang UNIK. Apa salahnya sih menjadi UNIK? Saya sangat kesal saat teman-teman saya--bahkan kawan terdekat saya mengejek dan mencela orang-orang UNIK yang ada di sekolah saya. Hellowww mereka hanyalah melihat orang2 UNIK tersebut dari sisi negatifnya, tapi tidak pernah sekalipun menengok sisi positif mereka. 

Saya berasa ingin memaki mereka yang mengernyitkan wajah mereka yang secara otomatis itu menandakan ekspresi jijik terhadap orang-orang UNIK. Saya tidak begitu jijik dengan sampah, tapi saya sangat jijik melebihi apapun saat mereka mencela orang-orang tersebut. Kenapa? Kenapa mereka bisanya hanya mencela penampilan Orang UNIK? Ya, benar sekali mereka tanpa mengenal orang-orang UNIK terlebih dahulu langsung mengejudge orang-orang tersebut lebih rendah dari mereka. Padahal apa? Otak orang-orang UNIK tersebut lebih encer, cerdas dan jenius dari orang-orang tersebut. Karena orang-orang itu selalu think out of the box. Oke oke, cukup segini aja pendahuluannya, dari pada kalo diterusin bikin saya tambah nyerocos... Sekian dulu ya postingan absurd ini, semoga bisa membuka pikiran anda pembaca sekalian yang masih suka melihat dengan sebelah mata terhadap mereka orang-orang UNIK.

Salam Damai
Salam D-103

Fiksi: Surat Mungil Untukmu

Detak jarum jam semakin terdengar keras. Jarum-jarumnya membentuk sudut 90 derajat dengan jarum panjang mengarah ke angka 12 sementara dengan baiknya jarum pendek menunjuk ke angka 9. Suara televisi di ruang keluarga semakin lama-semakin terdengar agak keras. Nampaknya penghuni rumah yang lain sudah tertidur pulas.

Suara-suara malam kian berbisik lirih kepadaku yang sedang berbaring lemah di atas tumpukkan busa kasur yang sungguh memanjakanku lebih dari apapun. Tubuh yang mulai bosan dengan aktifitas menjenuhkan ini mulai bangkit tanpa perintah maupun aba-aba dari pikiranku.
Tanganku mulai meraih sebuah benda persegi panjang berwarna hitam yang masih tertancap kabel charger di atas meja belajar. Kemudian dibukanya dengan gontai, ditekannya tombol power dan beberapa detik kemudian munculllah tampilan desktop di layarnya. Sebuah benda sebesar korek gas pun segera ditancapkannya di slot USB. Muncullah tampilan yang tak asing lagi bagiku. Tak mau berlama-lama tanganku pun segera menekan touchpad begitu pointer tepat berada diatas tombol Connect.

Beberapa detik aku bingung apa yang akan aku lakukan. Dengan tatapan kosong, tanganku mulai mengeklik ini itu hingga ku sadari tampilan layar laptopku telah berada di halaman depan sebuah situs media sosial yang sedang booming. Dengan lincahnya tanganku mulai mengotak-atik tombol keyboard, mengisikan username dan password akun ku. Begitu tampilan beranda muncul, tanganku mulai usil dengan menekan tombol scroll down. Baris demi baris aku mulai membaca satu-persatu status dari teman-temanku. Dengan perasaan yang masih bosan aku mencoba mencari hal yang menarik dari beranda ku itu. Hingga akhirnya ada sebuah kalimat yang membuat mataku melotot saking tidak percaya nya.

"Matilah kebahagiaan, lahirlah kedukaan. Aku siap menerimanya. 
Hadiah bagi jiwa yang tidak berguna sepertiku."

Aku segera pergi ke timeline sang pembuat kalimat itu, semua yang kubaca disana hanyalah kata-kata keputusasaannya. Keputusasaan atas semua kekurangannya. Tak sadar lantas aku mendapati mulutku dalam keadaan ternganga penuh ketidakpercayaan. Ada apa dengannya? Seolah-olah tidak ada yang peduli betul kepadanya. Seperti tidak ada yang menerimanya apa adanya. Padahal... padahal kan...

Tak kuasa air mataku sudah menggenangi segenap mataku. Benarkah dia belum mempercayaiku? Benarkah dia masih meragukan perasaanku? Bukankah kita sudah lama bersama? Apakah aku harus mengucapkannya di hadapan kekasihku itu bahwa aku benar-benar mencintainya?

Aku lantas membuka sebuah editor text dan menumpahkan apa yang aku rasakan.

"Dear: My Darling

Kamu... yang selalu mengintip dibalik rerimbunan. Kamu yang selalu memperhatikan didalam diam. Dan kamu yang selalu meneduhkan disetiap dukaku. Apa kamu tahu, aku lah yang senantiasa menantikanmu tuk bangun dan menyapa disetiap pagiku...
Kamu... Iya kamu yang sedang membaca secarik tulisanku ini. Kamu pasti tahu bahwa orang-orang selalu melihat kesempurnaanmu dengan mengabaikan kekuranganmu, sehingga saat mereka mengetahui kekuranganmu itu mereka keburu lari terbirit menghindarimu. Kamu pasti juga tahu bahwa sebagian orang menjauhimu karena mereka baru mengenal kekurangmu. Tapi bagaimana jika akhirnya aku yang mencintaimu, mencintai segenap kekuranganmu juga lebihmu? Kamu yang sedang mengeja kata demi kata dalam coretan ini, aku tidak ingin memaksamu untuk mencintaiku juga beserta dengan kekuranganku, tidak... sekalipun aku tidak menginginkannya. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu, aku mencintaimu, mencintai kekuranganmu, mencintai kelebihanmu, mencintai KEUNIKANmu, mencintai kamu apa adanya. Semoga kamu segera terbuka matanya, segera melihat bahwa di dalam diamku terdapat perhatian terhadapmu. Rasakanlah... banyak yang mencintaimu jika kamu melihatnya. Jangan merasa sendiri, karena akupun tak akan membiarkanmu sendiri dalam jarak ini, meski kita tidak dapat saling menyentuh, percayalah, aku lah yang selalu membelaimu dalam kelembutan. Seperti pantonim memang, tapi seperti itulah caraku menenangkanmu. Percayalah, akulah yang selalu mengecupmu dalam setiap doa ku..."

Aku telah habis kata-kata untuk mengungkapkan apa yang ada di kepalaku. Aku membacanya sekali lagi, sekali lagi, dan berkali-kali lagi. Aku berulangkali berfikir, apakah aku harus mengirimkannya melalui email ataukah harus ku simpan untuk ku sendiri? Aku membacanya sekali lagi untuk memastikan tidak ada kesalahan pada ejaanku. Arrgggggg, kenapa aku masih bingung? | Jika aku kirimkan, aku maluuuuuuuu. | Tapi kalau tidak, bagaimana dia bisa tahu apa yang aku rasakan? | Aku kan pacarnya jadi pasti dia tahu kalau aku mencintainya | Tapi dia kan bukan paranormal yang bisa tahu sampai sebegitu detail. | Ahh, baiklahhh aku akan mengirimkannya. FIX!!!

Dengan sambil sesekali memejamkan mata, aku membuka halaman email di browserku. Aku menekan tombol compose, dan mengetikkan nama email kekasihku itu. Sejenak aku masih ragu untuk mengirimkannya. Aku mulai berpikir keras. Yapsss, aku sudah bulat dengan tekatku, aku harus mengirimkannya. Dengan sedikit komat-kamit memanjatkan doa, aku mulai mengcopy apa yang sudah aku ketikkan panjang lebar tadi ke kolom isi email. Aku sudah bersiap untuk menekan tobol ctrl+v dan satu hal yang kemudian menguhalangi niatku. Tiba-tiba aku dapati aku tidak dapat melihat apa-apa lagi. Sejenak aku berpikir bahwa aku mengalami serangan kebutaan mendadak akibat stress ringan efek menimbang-nimbang apakah coretan tersebut harus aku kirimkan atau tidak.

Akhirnya aku menyadari satu hal, ternyata ini mati listrik sebab suara televisi yang tadinya lantang terdengar dari balik tembok kamarku tersebut telah tiada. Dan satu hal yang aku lupa, bahwa tadi siang sudah ada peringatan bahwa malam ini akan ada pemadaman listrik lokal. Laluuu bagaimana dengan surat tadi??? Aku belum sempat menyimpannya di dalam editor text, dan kini laptop ku telah tershutdown karena aku melepas batterai nya???

Baiklah, aku pasrah dan ikhlas dengan surat tadi. Aku merebahkan setengah membanting tubuhku yang memang sudah letih sedari tadi meringkuk dalam posisi tengkurap. Aku begitu bersyukur karena aku benar-benar tidak buta mendadak, dan akupun dapat pelajaran berharga. Jangan berpikir terlalu lama!!!. Jangan berlebihan dalam berpikir!

Aku membuka jendela kamarku, terpaan angin yang membungkus kehangatan dalam kedinginan menyambut poni ku dengan mesra. Oh angin, berhembuslah ke luar sana dan sampaikan surat tak terucap dan tak terungkapku untuk kekasihku di sana. Bisikkanlah bahwa aku menunggunya dengan penuh kerinduan...

Karya: Irma Oma Eka

Peringatan: Segala bentuk kesamaan cerita, alur, nama, tokoh dsb hanyalah kebetulan belaka karena ini hanyalah coretan fiksi.

Terima kasih atas kunjungannya :)
Salam D-103