Kamis, 05 Juni 2014

Terjemahan Lyric Between The Bars By Elliot Smith

Hi guys, apakah kalian tau lagu nya Elliot Smith yang Between The Bars? Dan apa kalian udah tau arti atau terjemahan dari lagu itu? Kalu belum tau, ayo kita terjemahin bareng-bareng JLagu ini menurut gue adalah lagu yang sangat romantis sekaligus sedih. Dan kalau gue dengerin lagu ini saat gue lagi bener-bener down, gue bisa nangis. Yang bikin lagu ini romantic adalah arti yang mendalam dan suara penyanyinya yang lirih, seakan bicara dari hati ke hati dengan gue. Jika kita sedih pasti nangis kalo seseorang nyanyiin lagu ini buat kita. Nyok mari liat terjemahannya. Cuuuusss…

"Between The Bars"Diantara Meja Bar



Drink up baby, stay up all night
Minumlah sayang, tetaplah sadar sepanjang malam
With the things you could do

Bersama hal yang dapat kau lakukan
You won't but you might
Hal yang kau tidak mau tapi harus kau lakukan
The potential you'll be
Potensi yang kau miliki
That you'll never see
Yang tidak pernah kau lihat
The promises you'll only make
Janji-janji yang akan kau buat

Drink up with me now
Minumlah bersamaku sekarang
And forget all about
Dan lupakan semua tentang
The pressure of days
Hari yang penuh dengan tekanan
Do what I say
Apa yang ku bilang?
And I'll make you okay
Dan aku akan membuatmu baik-baik saja
And drive them away
Dan menjauhkan mereka
The images stuck in your head
Yaitu gambar-gambar yang terperangkap di pikiranmu

People you've been before
Orang-orang yang telah kau temui sebelumnya
That you don't want around anymore
Yang sebenarnya kau tidak inginkan keberadaannya lagi
That push and shove and won't bend to your will
Yang menekan dan mendorong dan tidak menghiraukan keinginanmu
I'll keep them still
Aku akan menjaganya [detective-103.blogspot.com]

Drink up baby, look at the stars
Minumlah sayang, lihatlah bintang disana
I'll kiss you again between the bars
Aku akan menciummu lagi diantara meja bar
Where I'm seeing you there
Tempat dimana aku sedang melihatmu
With your hands in the air
Dengan tanganmu di udara
Waiting to finally be caught
Yang sedang menunggu akhir

Drink up one more time
Minumlah sekali lagi
And I'll make you mine
Dan aku akan membuatmu jadi milikku
Keep you apart,
Menjagamu seutuhnya
Deep in my heart
Jauh di dalam lubuk hatiku
Separate from the rest,
Yang terpisah dari sisa waktu
Where I like you the best [detective-103.blogspot.com
Dimana aku inginkan yang terbaik untukmu
And keep the things you forgot
Dan menjaga hal-hal yang kau lupakan

The people you've been before
Orang-orang yang kau miliki sebelumnya
That you don't want around anymore
Yang kau tidak lagi ingin mereka ada
That push and shove and won't bend to your will
Yang menekan dan mendorong dan mengabaikan keinginanmu
I'll keep them still

Aku akan menjaganya

Sekian, salam D-103

Film-Film Yang Menguras Air Mata

Hey guys... Film emang banyak banget macemnya. Mulai dari kartun, anime, live action dan sebagainya. Jenis Emosinya pun berbeda-beda. Ada yang lucu sampai ngebuat kita sakit perut karena nahan tawa, ada yang bikin mata kita bengkak gara-gara nangis mulu dari awal film sampe akhir film, ada pula yang biasa aja.
       Nah kali ini gue mau ngebahas film yang menguras air mata. Film ini gue range berdasarkan pengalaman pribadi dan film ini gue ambil dari berbagai negara pembuatnya. Langsung cus aja nyok ke TKP...

1. A Long Visit


    Film ini gue range pertama karena emang bener-bener nguras air mata dari awal sampe akhir film. Bercerita tentang seorang anak yang inget pengorbanan-pengorbanan ibunya. Dari luar ibunya ini emang terlihat bukan lah ibu yang baik, yang sabar, yang lembut. Tapi jauh di dalam, dia itu sayang banget sama anak ceweknya itu sampai-sampai dia bersedia tiap hari dipukuli oleh suaminya yang kasar bin tempramen. Sebenarnya dia ingin kabur jauh-jauh dari suaminya itu. Tapi dia tidak tega meninggalkan anak-anaknya tinggal bersama ayahnya yang terkadang suka kelewat batas saat marah dan nggak segan-segan main tangan (main hom pim pah -_- )

Di film ini diceritakan tentang seorang ibu yang tinggal di desa plosok di korea, dan saat anak-anaknya pergi untuk menjemput takdir mereka masing-masing disini juga diceritakan betapa kesepiannya orang tua kalo ditinggal sama anak-anaknya kalo udah besar. (Duh jadi galau waktu dewasa dan harus meninggalkan mereka). Nggak hanya dibawa dalam sudut pandang seorang anak, di akhir-akhir cerita kita juga diarahkan pada sudut pandang seorang ibu yang ditinggal mati anaknya terlebih dahulu. hiks hiks, langsung tonton aja dah guys filmnya, dijamin nangis sejadi-jadinya dah...

2. Wedding Dress


    Masih film yang diproduksi dari negara gingseng--korea, film ini juga bercerita tentang ibu dan anak. Di awal cerita kita masih dibawa pada suasana seru dan ceria ala cewek single parent yang bekerja sebagai desainer gaun pengantin sambil ngasuh anak semata wayangnya. Suaminya telah meninggal pada awal-awal pernikahan mereka. Sehingga dia harus jumpalikan ngurus anak sambil kerja, tapi menurut gue seru sih kehidupannya dia, hingga suatu saat penyakit yang dirahasiakannya semakin parah. Penyakit itu adalah kanker lambung (jeng jeeenngggg) dan mengharuskan dia mendapatkan kehidupan yang tidak lama lagi akan berakhir. Sambil menjalani hari bersama rasa sakitnya, dia digalaukan dengan anaknya sepeninggalnya nanti. Siapa yang akan bersedia mengurusnya? Apakah akhirnya si anak hidup terlantar? Lihat saja filmnya :P

Yang bikin sedih dari film ini adalah ketegaran dan kepolosan si anak yang tahu kalau ibunya sebentar lagi akan meninggal hiks hiks...

Sementara segitu dulu guys, gue mau buang ingus dan cuci muka dulu. Tisu gue udah abis gara-gara tuh film. Thanks for your attention. hiksss

Terjemahan Im With You - Avril L.

Haiiiii, balik lagi sama gue. Setelah sekian lama nggak posting apapun, akhirnya gue bisa kembali ke dunia gue tercintah ini. Bloooooggg!
                Kali ini gue mau ngulas tentang arti atau terjemahan dari lagunya Avril Lavign yang judulnya Im with you. Sudahkah anda pernah mendengarnya? Bagi yang udah pernah mendengar lagu ini, kita bakal dibawa ke suasana yang ngebuat kita (khususnya gue) ngerasa sendiri. Semua yang gue lakukan untuk mengusir rasa sendiri gue itu sia-sia karena pada akhirnya gue tetep ngerasa sendiri. Dan satu hal gue harapkan, ada seseorang yang datang membawa secercah keramaian dan membawa gue ke tempat yang baru dan pastinya tempat akan membuat gue nggak akan pernah ngerasa sendirian lagi. Coba aja langsung pantengin terjemahannya di bawah ini guys, hope you enjoy it! J




Im With You
I’m standing on the bridge, I’m waiting in the dark,
Aku berdiri di jembatan, aku menunggu di dalam kegelapan
I thought that you’d be here, by now.
Aku pikir kamu akan ada di sini, sekarang.
There’s nothing but the rain, no pictures in the dark,
Tak ada apapun selain hujan, tak ada gambar di dalam kegelapan.
I’m listening but there’s no sound.
Aku mendengarkan tapi sama sekali tak ada suara.

Isn’t anyone tryin to find me,
Apakah tidak ada satu orang pun yang berusaha mencariku
Won’t somebody come take me home
Tidak adakah yang mau membawaku pulang

CHORUS:
[detective-103.blogspot.com]
It’s a damn cold night,
Malam ini adalah malam yang sangat dingin
Tryin to figure out this life,
Mencoba mencari arti hidup ini

Won’t you take me by the hand, take me somewhere new,
Maukah kau membawaku dengan tanganmu, membawaku ke tempat yang baru
I don’t know who you are, but I,
Aku tak tahu siapa kamu, tapi aku
I’m with you
Aku bersamamu
I’m with you       umm
Aku bersama mu. [detective-103.blogspot.com]

I’m lookin for a place, I’m searching for a face,
Aku mencari sebuah tempat, aku mencari sesosok wajah
Is there anybody here I know.
Apakah ada seseorang disini, aku tahu.
Cause nothing’s goin’ right, and everythings a mess,
Karena tidak ada yang berjalan dengan baik, dan semuanya berantakan
And no one likes to be alone
Dan tak ada yang mau sendirian
Isn’t anyone tryin to find me,
Apakah ada yang mencoba mencariku
Won’t someone come take me home
Maukah seseorang membawaku pulang
Chorus
Oh, why is everything so confusing,
Oh, mengapa semua begitu membingungkan
Maybe I’m just out of my mind
Mungkin aku hanya sedikit hilang akal
Yeah-ee-yeah, yeah-ee-yeah
Yeah-ee-yeah, Yeah-ee-yeah
Yeah
Chorus
End ….

I’m with you
Aku bersamamu
I’m with you
Aku bersamamu
I’m with you
Aku bersamamu



Sekian guys, hope you enjoy it :) thanks for visitting my blog...

Kamis, 29 Mei 2014

Invisible Friends ^_^

Setelah membaca postingan bebebzh gue dalam curhatannya mengenai Virtual Friends dan juga kebaikan2 mereka, gue langsung teringat tentang teman-teman gue yang sebenernya juga sangaaaaaaaaaatttttt mengerti diri gue. Bahkan saat diri gue berada dalam kondisi down, mereka tetap tak henti membuka pikiran gue dan menemani gue.

Bagi gue, mereka adalah lebih dari sekedar teman. Bahkan sudah sampai masuk dalam tataran keluarga . Disaat sama sekali tidak ada teman nyata yang bisa meluangkan waktu bagi gue, mereka datang dalam kehidupan gue dan memberi gue pemecahan-pemecahan dan solusi. Mungkin bagi kalian yang kenal gue dan sering melihat gue terdiam sendirian mengira kalau gue kesepian, tak berkawan dan sebagainya. Sebenarnya itu gue sedang bersama dengan teman-teman gue. Sedang berbincang-bincang tentang apapun yang sedang ingin kami bicarakan. Bahkan seringkali mereka memberi solusi yang jauh lebih efektif dan baik dari solusi yang diberikan oleh teman-teman nyata gue. Gue menyesalinya, kenapa gue baru menyadari keberadaan mereka. Coba saja gue menyadarinya lebih awal, gue nggak bakal down yang sangat down seperti saat gue berada di masa-masa terlabil gue 1-2 tahun yang lalu.


Menurut gue, mereka yang paling mengerti keadaan gue. Mereka memang tidak selalu membenarkan perbuatan gue yang terkadang memang salah, tapi tetap saja mereka memberikan kedamaian dalam hidup gue. Meskipun tak jarang mereka mengomeli gue, tapi gue tetep sayang sama mereka sama seperti sayang gue sama temen2 nyata gue, bahkan lebih. Disini, gue akan kenalin mereka satu persatu.

1. Ray Okazuko
    Dia adalah cowok kece yang kadang suka nyebelin. Nggak jarang ngomelin gue saat gue melakukan hal-hal ceroboh atau saat gue berpikiran negatif. Dia adalah yang tertua diantara yang lain. Meski kadang nyebelin, childish dan sering berkelakuan konyol, tapi dia juga bisa menjelma menjadi abang yang sangat bijak dan dewasa banget. Saat gue patah hati, dia yang suka nyeramahin gue bagaimana gue harus bersikap. Dia juga sering mendamaikan gue saat pikiran gue lagi kalut. Dia juga yang sering ngebalikin kepercayaan diri gue saat gue bener-bener minder. Seperti saat wisuda kemarin, gue benar-benar nggak pede dengan diri gue yang berbalut kebaya ketat dan make up yang seperti badut. Di mobil, saat perjalanan ke taman mini, gue benar-benar bad mood dan nggak pede, hingga tiba-tiba dia muncul dan berkata 

"Lo itu memang jelek, apalagi dandanan lo yang kayak badut itu nambah wajah lu terlihat gokil. Tapi coba deh nanti berjalan santai dan jangan lupa senyum. Meski nggak bakal merubah bentuk wajah lo menjadi cantik, tapi lo bakal terlihat pede dan itu 'elo banget'. Sehingga orang juga nggak aneh2 amat ngeliatin lo." setelah berdebat sedikit dengan dia, gue berpkir benar juga apa yang di katakannya. 

Ternyata kenyataan tidak sesuai harapan. Setelah gue turun dari mobil, gue melihat sekitar begitu ramai dan orang-orang terlihat sangat cantik. Lagi-lagi gue minder. Si abang Ray muncul lagi dan bilang " Sayang, ayolah senyum. Minder ya? Ngapain minder? Lagian mereka jg nggak bakal memperhatikan orang lain, mereka juga sibuk kok dengan penampilannya masing-masing." well dan itu berhasil menenangkan diri gue.

Abang Ray, dia itu suka hal-hal yang menantang dan memacu adrenalin. Dan mugkin itulah yang terkadang membuat gue jg ikut-ikutan tertarik dg hal semacem itu. Ngakngakngak...

2. Irisama
    Well, sebenarnya dia itu temen gue yang selalu mengajak gue kepada ketenangan batin. Dia jarang berbicara dan memberi saran ke gue. Tapi dia memberi solusi ke gue dengan pendekatan meditasi. Dia selalu menyarankan agar saat ada masalah, gue tenang dan tetap berpikir jernih. Dia juga yang menemani gue saat gue sendirian di dunia nyata maupun di dunia gue. Disaat yang lain (Bang Ray, Ruma dan Rana) tidak ada di sisi gue, dia yang menemani gue. Meski dia nggak pandai dan nggak doyang banyak omong--sama persis seperti gue--tapi dia cukup pandai dalam menemani gue saat sendiri. Dia menyuruh gue mendengarkan 'sekitar', mendengarkan kesunyian, mendengarkan awan yang bergeser, mendengarkan burung yang terbang kesepian saat gue upacara hr senin, pokoknya dia itu figure yang tenang dan mendamaikan. 

Dia suka sama ketenangan, musik klasik, seni. Dan dia itu orang paling nyentrik dari yang lainnya. Meskipun dia itu orang yang tenang, tapi sebenernya dia itu bisa asik juga. hehehe

3. Ruma-Chan
    Dia itu sosok anak kecil yang cerewet, periang, childish banget. Dia sering ngehibur gue saat gue sedih, kata-kata yang sering gue ingat adalah "Daijoubu irma, semua akan baik-baik saja." "Daijoubu!" khas dengan suara cepreng nya. Dia juga dapat menjelma jadi sosok yang sangat dewasa dalam menceramahi gue. Terkadang saat gue menangis, dia suka memeluk gue. Saat gue sedang menangis di pangkuan Ray dan Ray mengelus rambut gue, Ruma suka mengelus-elus pundak gue sambil ngucapin kata ajaibnya "Daijoubu!" hahaha terkadang gue suka malu sama Ruma, gue lebih tua dari dia tapi dia sering bersikap lebih dewasa dari gue, Yaah meskipun gue juga harus sering-sering mengawasi dan mengontrol dia saat bermain. -_- Demo, ore wa totemo totemo Daisuki Ruma-Chan! :)

4. Rana
    Diantara yang lainnya, dialah figur yang paling normal, dewasa dan girly. Dia itu tenang tapi juga bisa asik. Well, sebenernya gue belum lama sih kenal sama Rana, tapi yang gue tau dia itu hangat dan keibuan banget. Kadang saat ada acara formal, gue suka pinjem karakter dia biar gue bisa tampil girly dengan pede. hehe,

Dia itu cewek penyuka petualangan, dia suka gunung, pantai dan pemandangan kealam-alaman gitu deh. Dia itu menurut gue adalah sosok cewek dan calon istri yang almost perfect. hehe...

5. Hidenori
    Well, sebenernya gue nggak tahu siapa nama asli dia, dan gue sama sekali nggak ingin tau. Gue kenal dia sejak kelas 2 semester 2 SMK. Dia adalah cowok unyu, cool dengan kaca matanya. Dia suka nemenin gue saat gue dikelas maupun di luar kelas. Dia sering dateng ke rumah gue dan muncul saat gue duduk-duduk di pinggir lapangan dekat tangga depan ruang 20. Well, sebenernya kita pernah pacaran tapi nggak jelas kabar putusnya. Apa gue pernah putus dengan dia? entahlah, yang jelas semenjak gue berpacaran dengan pacar gue (sekarang udah putus) sebut saja namanya Kumbang, gue jarang ngeliat hidenori. Sebelumnya dia nyelingkuhin gue dengan seorang cewek yang gue lupa namanya T_T HUAAAAAAA.... Tapi nggak papa, meskipun hidenori udah jadi mantan, saat ketemu dia tetaplah teman gue. Teman yang pernah ada saat gue sedih, bahkan dia yang memeluk dan menenangkan gue saat gue benar-benar down. Haahhh, hidenori gue benar-benar kangen dengan teman gue yang satu itu. Gue inget banget saat sedang berlangsung pelajaran di kelas gue, dia tiba-tiba masuk dan duduk di samping gue. Untung ggak ada yang ngeliat dia. Hahaha,


Well, itulah tadi temen-temen baik gue yang invisible alias tidak terlihat. Terkadang di dunia nyata gue juga pengen mereka itu seperti temen-temen nyata gue yang lain yang bisa gue ajak main basket saat pelajaran olah raga, gue ajak berburu buku (secara fisik), gue pengen mereka seperti teman-teman gue yang lain, terlihat. Tapi yaaa itu, tak apalah jika orang lain tidak bisa melihat mereka. Yang penting kami happy, hehehe...

Doc. Wisuda: Irma, Citra, Fina dan Faris

Haaaiii guys, here im gonna share to ya photos of my graduation. yeeeaaayyyy!!! yeah guys i've graduated from the Vocational High School. And, there they are:

Caption: Citra, Fina and Irma

 this caption is about Citra, Fina and Irma



Caption: Irma Citra Fina Faris







Senin, 24 Maret 2014

FREAK!!!

 Freakk!!!
Ketika Dua Manusia Usang Ini Bertemu
Aku masih duduk di sebuah bangku mall yang ada dibawah pohon hias mini. Dihadapanku berdiri sebuah toko baju, sedangkan di sebelah kiriku berdiri beberapa toko sepatu kemudian toko makanan, dan tiga deret toko dari arah kanan ku ada sebuah toko buku. Hari sudah menunjukan pukul setengah lima sore.
Orang itu masih berdiri di depan toko makanan, memesan dua buah es krim seperti apa yang dijanjikannya kemarin. Setelah di kedua tangannya membawa masing-masing sebuah eskrim untukku dan untuknya, dia menyodorkan sebelah tangan kanannya untuk memberiku salah satu eskrim yang di bawanya. Wajahnya datar, sangat datar, lumayan cantik meski dia seorang lelaki, putih mulus, hanya ada satu jerawat yang terletak di pipi kanannya. Aku masih tidak dapat percaya dengan apa yang hari ini aku alami. Bahkan hari-hari yang aku lewati dengannya pun aku masih tidak dapat percaya, bagaikan mimpi. Ya, seperti inilah mimpi yang aku selalu imaginasikan di masa kecilku.

Dia adalah orang yang baik, sangat baik. Dia mau menjadi bagian dari seseorang sepertiku. Aku yang anak dari orang miskin, introvert—super tertutup—anak yang tidak mempunyai teman dekat semenjak ada di kelas dua SMP. Anak yang mempunyai sedikit cacat pada muka, ya, ada sebuah bekas luka sayatan lumayan panjang yang melintang dari pelipisku hingga pangkal pipi. Aku sama sekali tidak cantik, dan jika ditambah dengan bekas luka pada wajahku yang terlihat jelas itu pasti saja anak kecil akan takut denganku. Bahkan teman-teman sebayaku entah di SMP, SMA bahkan beberapa guru masih saja ada yang meledek pahit dengan perkataan-perkataan yang menyakitkan. Aku tahu sebagian dari mereka hanya bermaksud untuk bercanda, tapi satu hal yang aku tidak tahu kenapa adalah tidakkah mereka mencoba berempati, memposisikan diri jika mereka ada di pihakku bagaimana perasaannya? Ahh entahlah…
Sebuah tangan yang merebut es krim dari tanganku menyadarkan penghayatanku. Ternyata itu tangan Dio yang merebut kembali es krim yang telah diberikannya padaku, kemudian dijilatnya. Aku masih shock, lengkap dengan mulut menganga. Kemudian aku tersadar dan segera mengutukinya. “Ihh kok es krim nya diambil lagi sih? Dijilat lagi! Ahh trus aku dimana dong? Ah Diooo…” kataku sambil memukulnya dengan kantong belanja yang didalamnya berisi buku-buku hasil buruan kami tadi. “Lagian, katanya suruh nraktir es krim. Kok malah dipelototin gitu?” katanya dengan wajah tanpa ekspresi. “Yaudah nih, buat kamu aja.” Katanya lagi. Kali ini dengan sedikit ekspresi namun tetap terlihat polos dan dengan tingkah laku mirip seperti anak kecil yang berebut es krim lalu salah satu anak terpaksa merelakannya lengkap dengan ekspresi lucu. Aku segera mengambil es krim itu. Andai saja es krim itu tidak bisa mencair ataupun basi, pasti akan ku simpan sebagai prasasti kebahagiaanku karena sudah berhasil mewujudkan keinginanku.
“Dio, makasih ya kamu udah mau jalan sama aku. Aku seneeeenggg banget deh. Aku ga percaya akan hari ini. Ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu selama bertahun-tahun. Akhirnya aku ga jalan sendirian lagi. Akhirnya aku bisa nonton bioskop bareng-bareng, makan es krim bareng-bareng, ke mall bareng-bareng, makan Mc.E bareng-bareng, berburu buku dan kaset bareng-bareng…bla..bla..bla…”
“Iya sama-sama.” katanya singkat sambil melukiskan guratan indah di bibirnya.
Wajah polosnya saat berterima kasih padaku mengingatkanku pada hari saat kita pertama kali bertemu. Aku bertemu dengannya di Klub Japan di sekolah kami. Kami sama-sama kelas 2 dan baru bergabung pertama kalinya di klub itu. Asing memang bagiku. Masuk ke sebuah lingkungan baru dengan junior yang berperan sebagai seniorku. Hal ini terjadi karena di kelas satu aku belum mempunyai niat untuk bergabung dengan klub Japan. Jadi, terpaksa mau tidak mau harus aku belajar di lingkungan seperti itu. Apa salahnya? Belajar itu tidak memandang tempat, waktu dan lingkungan kan?
Di klub itu aku termasuk anak yang sangat pendiam dan anti sosial. Begitu juga dengan Dio. Namun entah setan apa yang merasuki kami sehingga membuat kami saling nyambung saat aku menyetel anime Swort Art Online di laptopku yang kemudian menarik perhatiannya. Sejak saat itu aku dan dia menjadi dekat. Meskipun itu sama-sekali tidak mengubah keadaan kami terhadap lingkungan klub japan. Ya, meskipun aku semakin akrab dengan Dio begitu juga dengan Dio kepadaku, namun kami tidaklah berubah menjadi orang yang ramah dan kemudian bergabung atau membaur dengan anggota klub japan yang lainnya. Kami masih seperti kami yang dulu, yang anti sosial.
Waktu berjalan, dan kami semakin akrab. Ternyata kami mempunyai banyak kesukaan yang sama, hobi yang sama, minat terhadap genre anime yang sama, kepribadian yang hampir sama, kekritisan yang nyaris sama, keinginan masing-masing kami juga banyak yang sama.
Banyak orang-orang di lingkungan sekolah—tentunya yang mengenal kami, mengatai kami itu mirip, dan juga cocok buat jadi partner solid. Eittss… perlu di garis bawahi dengan font yang unik dan font size yang lebih besar bahwa teman-teman mencap kami sebagai partner yang solid karena kami sama-sama aneh. Ya, ya, ya… memang aku tidak menampik bahwa banyak orang yang mengataiku aneh dan sebagainya. Dio pernah bercerita kepadaku bahwa dia pun sangat sering sekali dikatai seperti itu. Namun aku mencoba mengabaikannya. Apa pentingnya kalau aku aneh? Apa pengaruhnya kalau aku aneh? Apa peduliku kalau aku aneh? Toh kalau aku aneh aku tetap bisa hidup. Namun begitu nampaknya hal yang membuat aku seringkali dikatai aneh karena kebiasaanku berpikir kritis terhadap masalah maupun anime atau film yang aku tonton di kelas. Aku pernah bahkan diusir dari kelas lantaran aku berisik bertanya-tanya pada teman-teman yang sedang asyik menonton film bersama. Bukannya menjawab, eh mereka malah mengusirku dan mengunciku dari dalam kelas. Aku sempat nelangsa, tapi hanya beberapa detik karena saat itu juga aku melihat Dio yang melintas sambil asyik mentertawaiku, menurutnya perilaku ku seperti anak kecil yang diusir oleh orang tuanya kemudian meminta kembali lagi sambil menggedor-gedor pintu dan tak lupa dengan bibir mewek. Serius, aku sama sekali tidak sadar akan perilaku ku tersebut. Dan akhirnya aku juga larut terbahak-bahak saat melihat Dio tertawa sangat lepas. Kemudian kami sama-sama pergi ke kantin.

Aku merasakan ada sesuatu yang sangat dingin yang sedang mengalir deras— sebenarnya sih biasa aja ngalirnya—dari ibu jariku menuju sikut. Aku kemudian tersadar bahwa es krimku kini telah meleleh di tanganku. Dio melihatku, kali ini tidak dengan ekspresi datar melainkan agak garang. “Kamu kenapa sih? Kemaren aja minta ditraktir es krim. Tapi giliran udah dibeliin malah cuman dipelototin.”
“Di, makasih ya kamu udah mau mengajakku jalan-jalan ke mall. Tau ga? Aku tuh seumur hidupku ngga pernah ke bioskop. Ngga pernah jalan-jalan ke mall bareng-bareng setelah bertahun-tahun yang lalu. Aku ngga pernah beli buku bareng sama teman-teman. Ini berarti banget buat aku. Dan aku harap kamu masih inget sama janji kamu kalau kamu akan jadi teman kepercayaanku seperti apa yang kamu bilang dulu.” Ucapku mengingatkannya.
“Tenang aja, seperti janjiku, aku akan menjadi teman kepercayaanmu. Emang siapa sih yang mau menjadi teman kepercayaan kamu selain aku? Ha?” katanya sambil tertawa. Aku hanya bisa membalasnya dengan memukulkan kantong belanja yang berisi buku-buku yang ada di tangan kiriku. “Aku juga janji ngga akan ingkar janji. Aku inget sama semua janji aku ke kamu. Gue juga seneng kali bisa pergi bareng-bareng kayak gini. Semua persepsi aku tentang seorang teman yang serius alias teman beneran itu salah selama ini, Dan sekarang aku tahu dan yakin kalau kamu itu adalah orang yang berbeda dengan mereka—teman dalam tanda kutip yang sering mengataiku idiot, autis, ga normal ataupun aneh. Dan aku ngga akan peduli dengan kata-kata mereka yang mengatai kita aneh, yaa meskipun aku tahu kamu memang bener-bener aneh, tapi aku ngga akan seperti mereka kok. Kamu tenang aja yah.” Katanya. Kali ini perkataanya benar-benar membuatku sangat damai dan tenang. Aku punya seorang teman yang mempunyai pemikiran yang sama denganku. Dan sangat dekat denganku. Itulah yang membuatku sangat bahagia. Tapi tunggu, tadi dia mengataiku aneh. Apa dia tidak sadar bahwa sendirinya pun sangat aneh. Huh… -_-
“Oya, mau kemana lagi nih? Mumpung kita lagi disini.” Tanya nya. “Hmmmm, kemana ya? I have no idea.” Kataku sambil menggeleng. “Wah elah, jangan pake bahasa inggris dong. Kan gue ga ngerti.” Katanya sambil cemberut yang bukannya membuatku takut tapi malah membuatku semakin menahan tawa. “Aku tidak punya ide Di…” Kataku. “Ohh, yasudah. Ayo antar aku ke mall seberang. Ada sesuatu berbau anime yang mau aku cari. Jam segini masih nggapapa kan kalau kamu belum sampai rumah? Nanti dimarahin orang-tua kamu lagi.” Tanyanya memastikan. ”Tenang aja, aku udah ijin ini. Kalau kamu gimana?”
“Aku juga udah ijin kok. Ayo kesana! Aku udah ga tahan.”  Katanya sambil mengerang ganas. Aku tahu maksud perkataanya. Aku pun juga sudah tidak tahan. Aku langsung berdiri membereskan belanjaan dan kemudian berlari ke sebuah escalator menuju pintu keluar mall yang letaknya satu lantai dibawah kami berdiri ini. Dia mengekor dibelakangku meskipun aku tidak menengok namun aku langsung tahu karena langkah kakinya yang begitu kuat terdengar.
            Setelah terbebas dari escalator dia segera mendahuluiku menuju pintu keluar. Kini posisiku beralih yang mengekor langkahnya. Kami tepat bersampingan saat berada di ambang pintu keluar mall. Satpam yang berjaga melihati kami dengan tatapan penuh tanya. Aku menoleh ke arah Dio dan begitu juga Dio menoleh ke arahku dalam waktu yang bersamaan. Kami saling senyum mengisyaratkan bahwa kami siap untuk keluar.
            Aku melangkahkan kakiku sebanyak tiga langkah. Tak kusangka Dio juga melakukan hal tersebut, tepat bersamaan dengan ku. “Yeahhh!!!” teriak Dio yang posisinya masih berada di tengah area pintu keluar tersebut . Sontak orang-orang disekitar pintu mall pun menoleh ke arah kami. Aku segera minggir ke tepi dan langsung aku menyeret serta Dio.
“Seneng sih seneng. Tapi liat! Ngga di tengah pintu juga kalii…” kataku sambil menjitak kepala Dio. Dio hanya terkekeh meresponku. “Tapi, emang susah ya seharian berbahasa Indonesia yang baku demi memperingati Hari Bahasa Indonesia versi kita.” Kataku yang memang sudah tidak tahan dengan permainan yang jujur saja cukup menyiksa ini. “Dari tadi lo tau ga gue nahan tawa gara-gara percakapan kita tadi.” Katanya sambil tawa terbahak-bahak. “Udah ayo, sambil jalan. Nanti kelamaan lagi. Oya, muka lo tuh tadi kocak abis waktu lo belaggak jadi orang kalem bin melankolis.”
“Tapi iya sih, gue susah buat jadi orang melankolis ternyata kecuali waktu gue bener-bener galau. Kebalikannya, hari ini berhasil banget acting lo. Seriusan, lo keliatan melankolis banget.” Katanya bersemangat.
“Gatau nih hari ini atmosfirnya mendukung banget. Tiba-tiba aja dari pagi gua jadi melankolis. Itu bukan cuma sekedar acting, semua yang gue bilang tadi serius tau.”
“Gue juga serius. Gue seneng banget hari ini gue bener-bener ngga sendiri. Ayo berburu lagi.” Katanya. Saat dia mengatakan kalimat itu aku baru tersadar bahwa kami ternyata sudah berdiri di depan pintu masuk mall yang letaknya berseberangan dengan mall yang kami jelajahi tadi.
“Yoshhh… Akhirnya gue dapetin juga yang volume ini. Ahhhh, kawaaaaiii!!!!” katanya dengan sangat penuh semangat begitu kami sampai disebuah toko. Aku tidak begitu tahu toko apa ini. Tapi dari dekorasi dan barang-barang yang dijual, ini adalah sebuah toko yang berbau Japan dan tentunya Anime. Banyak buku, majalah, komik, asesoris anime, patung atau figure anime dan masih banyak lagi. Memang dia adalah maniac anime. Tidak bisa hidup tanpa anime. “Inget diri lu Di! Nyebut-nyebut!” kataku sambil tertawa lepas. Dia senyum kemudian disusul dengan mengelus komik yang dipegangnya dengan gaya mirip seperti seorang ibu yang mengusap sayang bayinya yang masih sangat kecil. Setelah dia mengambil beberapa barang yang sangatlah tidak asing bagiku. Ya, barang-barang itu terdiri dari figure, dan beberapa asesoris khas dari sebuah anime yang sedang sama-sama kami gilai. Aku membantunya membawakan beberapa belanjaannya. “Yosh… Ayo pulang. Eitss, kita kan ada perjanjian. Tadi gue pikir gue kalah, karena gue begitu banyak memakai kata slang Bahasa Indonesia dari pada lo. Dan berhubung gue adil bin bijaksana, ayo, gue traktir lo sesuai perjanjian kita kemaren. “ Katanya sambil menuju keluar mall.
Begitu sampai di tempat es, dia segera membelikanku sebuah jus Jeruk Spesial kesukaanku. Dia hanya memesan satu. Setahuku dia juga suka dengan minuman ini tapi kenapa dia hanya memesan satu? Ahh tapi yasudah lah, mungkin dia kenyang. Yang penting dia adalah orang yang tepat janji, meskipun ini bukan sesuatu yang besar, tapi cukup baguslah untuk dia belajar tepat janji. Dia menyodorkan minuman itu kepadaku. Aku pun duduk di bangku yang telah disediakan, kemudian disusul Dio duduk menghadap kepadaku. Aku meminum minuman salah satu kesukaanku itu. Dio hanya melihatiku. “Di, lo mau?” kataku menawarinya. “Ngga usah buat lo aja.” Katanya sambil tersenyum. “Ihhh, sebagai teman seharusnya ngga begitu Di.”
“Yaaah, maaf deh. Yaudah sini gue minta.”
“Eh tapi Di. Gue suka banget sama ini. Lo mintanya kapan-kapan aja ya?”
“Lha, payah lu. Katanya gue ga boleh nolak.”
“Bener banget, lo ngga boleh nolak. Oh yaudah deh, karena gue baik hati nih gue kasih baunya aja. Lo hirup ya..” kataku sambil meniupkan jus jeruk ke arahnya. Dia langsung berubah.
“Ahhh enaak baunya. Lagi, lagi…” katanya begitu riang.
“Udah ah, ntar bau jeruknya habis.”
“Yaelah, pelit banget sih lo.”
“Yosh, pulang yuk. Udah habis es jeruknya. Sisanya buat lo aja.”
“Yee, jahat banget sih lo. Udah abis baru dikasih ke gue. Mana cepet banget lagi abisnya, tau-tau udah abis aja.”

Akhirnya beginilah nasibku, mempunyai teman yang benar-benar teman. Teman yang tidak hanya datang saat tidak tahu pelajaran atau belum mengerjakan PR. Terima kasih atas es krimnya, terima kasih atas jalan-jalannya, terima kasih atas nonton bioskopnya, terima kasih atas Es Jus Spesialnya. Es Jus Spesial dari Dio.

Senin, 03 Maret 2014

The Dark Night Capuccinoooo

                Aku masih duduk termangu di ambang batas kesabaranku. Sudah empat gelas kopi capucino tersesap di rahangku. Ku intip jam di pergelangan tanganku. Pukul 22.15. Agaknya aku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Tubuhku melemas, kepalaku pusing menahan kantuk yang tak terkira kan. Betapa tidak? Aku belum tidur sejak aku menginjakkan kaki di kota tempat ku dibesarkan ini. Perjalanan Solo-Tangerang dengan menggunakan kereta cukup menguras tenaga ku. Ditambah lagi sejak pagi tadi ada saja tetangga yang bersilaturahmi ke rumah orang tuaku untuk sekedar bercengkrama dan mendengarkan ceritaku mengenai daerah seberang—Solo.


                Meskipun semakin malam café semakin ramai, tapi tetap saja sendirian diantara keramaian selama 3 jam lebih itu rasanya somethingsekali.
Ditambah lagi menunggu seseorang yang sama sekali tidak nampak batang hidungnya. Handphonenya pun mati, bagaimana bisa aku tahu bahwa dia akan datang? Keyakinan. Ya, keyakinan lah yang membuat tubuhku tetap disini meski otakku sudah memberontak tak terkira untuk segera enyah dari café ini. Keyakinanlah yang sedikit banyak bisa membuatku menekan amarah-amarah dan egoku selama ini. Keyakinan ini pula lah yang mampu membuat hubunganku dengannya bisa sejauh ini. Tiga tahun, ya tiga tahun sudah. Tiga tahun sudah sejak hari itu, aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini. Keadaan yang acap kali memaksaku untuk memiliki kesabaran diluar batas sisi kemanusiaanku. Terkadang aku merasa muak dengan semua tingkah konyolnya yang sangat menyebalkan ini. Terkadang aku sangat kesal dengan tingkahnya yang ‘semaunya sendiri’. Terkadang aku begitu yakin bahwa aku benar-benar tidak akan bisa lebih lama lagi bersamanya. Tapi pada akhirnya pun aku masih tetap bersamanya hingga malam ini.
                Deru motor di parkiran café yang sering terdengar dari luar jendela menyita perhatianku. Berkali-kali aku berharap orang yang ada dibalik kemudi motor itu adalah dia. Tapi berkali-kali pula aku mendapati hasil yang hampa. Tiga jam? Apa saja ya yang bisa aku lakukan dengan waktu sebanyak itu? Istirahat mungkin? Tidur mungkin? Ataukah memadu rindu dengan kedua orangtua dan adik semata wayangku yang sudah cukup lama aku tidak melihat wajah-wajahnya?

                Kata-kata yang sedari tadi terencana dikepalaku hampir buyar. Semua kalimat yang sudah kusiapkan untuk mengobrol dengannya agar suasana tidak kaku pun pudar. Dan semua hal manis yang aku bayangkan dalam pertemuan ini pun padam. Ingin rasanya aku menangis. Kenapa? Kenapa harus aku yang dipilihnya untuk ini? Kenapa aku yang dimauinya? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Jika saja bulan bisa merasa, pastilah sudah tercerai-berai kawah-kawahnya karena rasa yang aku derita ini. tenggorokkanku kering, juga perih. Sepertinya aku sudah tidak sabar lagi. Kali ini aku harus menjadi manusia biasa yang bisa habis rasa sabarnya, manusia yang bisa mengungkapkan rasa dan manusia yang punya rasa kemanusiaan. Tapi… aku… aku harus sabar, setengah jam lagi. Setengah jam saja… Ahh, tidak. Aku tidak bisa. Kali ini aku ingin menjadi lepas. Tiga tahun lamanya aku selalu dibeginikan olehnya. Dianggap enteng, dan dianggap tidak penting. Setiap sms yang kukirim kepadanya di sore hari, selalu dibalasnya pula di hari selanjutnya. Setiap berjanji bertemu, setiap kali itu pula selalu gagal karena bermacam alasan. Apa ini? sudah jelas bukan kalau dia tidak serius denganku? Sudah jelas bukan kalau aku ini tidak berharga dan tidak penting baginya? Tapi, untuk apa dia tetap mempertahankan ini selama tiga tahun? Untuk apa???
                Kini bukan hanya tenggorokkanku yang sakit. Tapi juga kepalaku terasa begitu pusing. Tak berlebihan rasanya jika banyak orang yang bilang saat sakit hati itu dada rasanya begitu sakit teriris-iris. Ya, seperti itulah yang kurasakan. Kini aku sudah yakin bahwa itu bukanlah teori sugestifnya orang-orang super melankolis yang lebih mudah menggalau. Itu teori umum yang sudah banyak orang merasakannya. Teori alam yang pasti akan menimpa orang-orang yang tidak peka sekalipun. Baiklah, kali ini aku akan pergi dan aku akan mengambil sikap atas perlakuannya selama ini. Tidak akan pernah bisa lo berdampingan sama orang yang enggak lo anggap penting! Makiku dalam hati kepada sosok Aldi yang sungguh menyebalkan itu.
                Aku mengemasi barang-barangku yang berserakan di meja café. Handphone, novel, buku catatan mini, semua telah rapih terhangatkan didalam tasku. Aku beranjak berdiri dan siap melangkah pergi meninggalkan masa depanku yang akan menjadi masa lalu, hingga tiba-tiba ku rasakan tubuhku menabrak sebuah badan tegap tinggi saat ku berbalik untuk pergi. Cowok manis itu mengenakan baju biru dongker yang dibalut dengan jaket denimn yang warnanya senada dengan celananya. Kacamata berbingkai hitamnya menyorot lembut mataku. Tapi kekesalanku sama sekali tidak terluluhkan oleh tatapan lembut maupun kedatangannya. Semua itu sudah terlambat, gemingku.
“Mau kemana?” katanya membuka percakapan. Aku sedikit mengernyitkan alisku, tetap dengan tatapan nanar yang seolah tak percaya dengan apa yang dia katakan barusan. “Mau kemana?” Itukah kalimat pertama yang keluar setelah selama tiga jam aku menunggunya??? Apa dia tidak…
“Oke sorry, gue lupa. Gue tadi keasyikan nonton bola sama anak-anak.” Sambungnya dengan masih menatapku. Kali ini tersirat sedikit penyesalan dalam matanya.
“Lo butuh orang yang lo anggap penting buat jadi pendamping lo Di. Lo nggak akan bisa hidup sama orang yang sama sekali enggak lo anggap penting kayak gue.” Dia hanya terdiam. Ingin rasanya aku memakinya dengan kencang, tapi sayang aku tidak ingin orang-orang di café menilaiku sebagai orang gila yang mengamuk pada pacarnya. Sedikitpun aku tidak ingin orang-orang disini melihatku dan Aldi sedang bertengkar. Meskipun aku tidak bisa bermimik biasa saja, tapi paling tidak aku tidak menangis disini. Padahal sangat ingin sekali aku melakukannya. Hanya tatapan hampa tanpa cinta yang bisa aku hidangkan malam ini.
“Lo penting Ri, penting. Tadi gue cuman lupa.” Dalihnya. Aku terkekeh kesal dengan alasannya itu. Apa selama ini, selama tiga tahun ini dia menganggapku penting? Oke, coba jelaskan dari mana aku bisa disebut penting saat sms-sms ku tidak langsung dibalas olehnya? Apa setiap kali itu juga dia sibuk? Lalu, obrolan-obrolan penting yang pernah aku tanyakan apa selalu ditanggapinya dengan cepat? Apa itu yang namanya penting?
“Sorry, gua nggak bisa lebih lama lagi. Gua juga manusia yang sesekali ingin diistimewakan. Lo sebaiknya cari orang yang lebih sabar lagi, dan juga lo anggap penting.” Kataku sambil melepaskan cincin di jari manis kiriku yang pernah dia berikan beberapa tahun yang lalu. Aku meletakkan cincin itu di atas meja, kemudian aku segera menerobos tubuh tinggi itu untuk mencapai pintu keluar. Dia menarik tanganku dari belakang, aku melepaskannya dan tak ingin sedikitpun menengok ke arahnya. Ini seperti drama saja. Dia mengejarku tapi aku sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi. Aku tersenyum kecut menanggapi adegan ini. benar-benar mirip seperti di film-film atau di novel yang pernah kubaca.  Meski tenggorokkanku terasa pahit dan sakit, tapi aku tidak ingin mendramatisir malam gelap ini dengan tangisan. Cukup hatiku saja yang meringis kesal. Aku tidak ingin pak supir yang memimpin pacu taksi ini tahu akan penderitaanku yang memalukan ini.
                Aku tiba di muka rumahku. Mengetuk pintu, dan tak lama kemudian cewek muda berpiyama muncul dibalik pintu yang terbuka. Dia tersenyum ke arahku. Ku balas dengan senyum terbaik yang bisa ku pamerkan hari ini. Tapi sial lah aku, tetap saja adikku itu mengetahui bahwa mala mini aku mendapatkan masalah. Dia mengusap punggungku. Biasanya dia melakukan itu saat aku benar-benar merasa sangat sedih dan kemudian aku akan berbagi kesedihanku itu kepadanya. Aku mengedarkan pandanganku kesekitar. Tak kujumpai ayah ataupun ibu di sudut ruang tamu ini. aku segera merangkaki anak-anak tangga dengan segala kepayahanku malam ini. Well, hatiku memang berusaha tetap tenang dan kuat tapi layaknya siku kaki ku tidak dapat berbohong. Rasanya begitu lemas.
                Aku melempar lembut tas ku itu ke segala arah. Kemudian aku meringkuk menghadap tembok, melampiaskan segala kepedihan sekaligus kelegaanku ini. Aku tidak harus menahannya lagi. Aku terisak dibalik ringkukan, bermandikan cahaya dari lentera mungil yang tergantung di atap kamarku. Detak jam semakin terdengar membumbung kencang. Aku tahu, dia mentertawakanku mala mini. Mentertawakan kesialanku selama ini. Hahaha, aku juga ingin tertawa pedih dalam isakan kerdilku.


Tanggal Buat: Jum'at 28 Februari 2014
Salam: D-103